Lanjut lagi soal AI ya, bosen ga?

Kalo nggak, let’s go! saatnya kita bahas lebih dalam mengenai AI

Jujur deh, siapa yang sekarang kalau dapet tugas atau kerjaan ribet, pelariannya langsung ke ChatGPT atau kawan-kawannya? Emang sih, AI itu kayak punya lampu ajaib: tinggal ketik dikit, simsalabim langsung jadi.

Tapi, makin ke sini, gue ngerasa AI ini bukan cuma soal asisten virtual doang. Dia udah mulai masuk ke sela-sela hidup kita yang paling personal. Nah, mumpung masih anget di tahun 2025 ini, yuk kita bahas sisi “lain” AI yang jarang diomongin orang, tapi penting buat kita sadarin.

Otak Kita Lagi “Diet” Mikir?

Dulu kalau disuruh nulis atau riset, otak kita diajak maraton baca sana-sini, mikir keras, baru dapet hasilnya. Sekarang? Karena ada AI, kita jadi sering ambil jalan pintas.

Bahayanya, kalau keseringan disuapin, otot kritis kita lama-lama bisa “atropi” alias kendor. Kita jadi gampang percaya apa kata AI tanpa di-cross check lagi. Oke sih kalau buat nyari ide, tapi jangan sampai kita kehilangan kemampuan buat mikir mandiri. Jangan biarin mesin yang nyetir cara kita berpendapat, ya!

Deepfake: Era “Gak Percaya Sama Mata Sendiri”

Pernah liat video artis atau tokoh politik ngomong yang aneh-aneh tapi kok mirip banget aslinya? Selamat, kamu lagi liat Deepfake. Ini teknologi AI yang paling bikin gue merinding.

Sekarang, hoax bukan cuma teks doang, tapi udah bentuk video dan suara yang mirip 99%. Jadi, kalau dapet kiriman video heboh di grup keluarga, jangan langsung emosi. Cek dulu, ini beneran orangnya atau cuma kerjaan AI yang lagi “akting”? Literasi digital kita bener-bener lagi diuji banget sekarang.

Teman Curhat yang Gak Bisa “Feel”

Lucunya, belakangan ini makin banyak orang yang curhatnya ke AI daripada ke temen deket. Alasannya? AI nggak bakal nge-judge, nggak bakal bocorin rahasia, dan selalu ada pas jam 2 pagi.

Emang sih ngebantu buat ngurangin stres, tapi inget ya, AI itu nggak punya “hati”. Dia cuma simulasi kata-kata berdasarkan pola. Jangan sampai kita jadi lebih nyaman sama kode-kode komputer dibanding jalin hubungan asli sama manusia yang punya empati dan emosi nyata.

Kreativitas yang “Sama Semua”

Sekarang semua orang bisa jadi “desainer” atau “penulis” dadakan. Tapi gue perhatiin, banyak karya AI yang kerasa “seragam”. Bagus sih, tapi hambar kayak nggak ada bumbu rahasianya.

Kreativitas manusia itu letaknya di imperfection atau kesalahan-kesalahan kecil yang bikin sebuah karya jadi unik. Kalau semuanya udah sempurna bikinan mesin, nilai “seni” yang beneran mungkin bakal balik lagi ke hal-hal yang dibuat pakai tangan, keringat, dan perasaan manusia.

Data Kita Adalah “Cemilan” AI

Ingat, AI itu pinter karena dia “makan” data kita. Apa pun yang kita ketik, apa pun yang kita tanya, semuanya jadi bahan belajar buat sistem mereka. Isu privasi ini nggak main-main.

Untungnya, kita udah punya UU Pelindungan Data Pribadi (PDP) buat jagain kita. Tapi tetep, benteng pertamanya ada di tangan kita sendiri. Jangan asal copy-paste data kantor atau rahasia pribadi ke kolom chat AI kalau nggak mau data itu “nyasar” ke mana-mana.

Jadi, Gimana?

AI itu ibarat motor balap: kalau kita jago bawanya, kita bisa sampai tujuan lebih cepet. Tapi kalau asal gas tanpa tau cara ngerem, ya wassalam.

Poinnya bukan benci AI, tapi gimana kita tetep jadi “manusia” di tengah gempuran mesin yang makin pinter. Gunain AI buat level up diri kamu, bukan buat gantiin diri kamu.

Gimana menurut lo? AI ini lebih banyak ngebantu atau malah bikin ngeri?

-TE

Posted in

Leave a comment