image source: getty image

Di article sebelumnya, kita telah membahas mengenai slow living, kali ini ayo kita kulik lebih dalam!

Untuk lebih spesifik, Slow Living di akhir 2025 bukan lagi sekadar pindah ke desa, tapi sudah masuk ke level mikro dalam keseharian. Berikut adalah aspek-aspek yang lebih mendalam dan spesifik yang sedang banyak dipraktikkan:

Digital Minimalism & “Layar Hitam Putih”

Banyak penganut slow living mulai melakukan Digital Detox yang lebih teknis:

  • Mode Grayscale: Mengubah tampilan layar HP menjadi hitam putih. Tujuannya agar otak tidak terstimulasi oleh warna-warna cerah aplikasi (seperti merah atau kuning) yang bikin kecanduan scrolling.
  • Smartphone Dumb-down: Menghapus semua aplikasi hiburan dan hanya menyisakan fungsi alat (peta, catatan, musik). Mereka ingin HP kembali menjadi alat, bukan pusat kehidupan. Cek panduan Digital Minimalism.

Slow Food & Mindful Eating

Ini adalah lawan dari budaya fast food dan makan sambil nonton:

  • Farm-to-Table Pribadi: Mulai menanam sendiri bumbu dapur (seperti cabai, mint, atau rosemary) di balkon atau teras. Ada kepuasan tersendiri saat memanen dan memasak apa yang ditanam.
  • Tanpa Gadget Saat Makan: Praktik spesifik di mana waktu makan benar-benar digunakan untuk merasakan tekstur dan rasa makanan tanpa gangguan layar. Ini dipercaya bisa menurunkan level stres dan memperbaiki pencernaan.

Slow Fashion & “Wardrobe Capsule”

Bukan cuma soal nggak belanja, tapi soal hubungan dengan pakaian:

  • Mending (Memperbaiki): Tren menjahit kembali baju yang sobek atau memberi bordir pada noda pakaian (sering disebut Visible Mending). Ini adalah bentuk kasih sayang pada barang yang sudah dimiliki.
  • Capsule Wardrobe: Membatasi jumlah pakaian hanya sekitar 30-40 potong yang semuanya saling cocok. Ini spesifik untuk menghilangkan “decision fatigue” atau rasa pusing memilih baju setiap pagi.

Monotasking di Tengah Dunia yang Multitasking

Spesifik dalam cara bekerja atau beraktivitas:

  • Deep Work: Mengalokasikan 2-3 jam sehari tanpa gangguan apapun (HP dimatikan) hanya untuk satu tugas penting.
  • Jalan Kaki Tanpa Podcast: Biasanya orang jalan kaki sambil dengerin musik atau podcast. Slow living mengajak orang jalan kaki 15-20 menit sambil benar-benar mendengarkan suara sekitar (angin, burung, langkah kaki) sebagai bentuk meditasi bergerak.

Slow Parenting (Bagi yang Sudah Berkeluarga)

Pola asuh yang mulai hits di 2025:

  • No Extra Courses: Mengurangi jadwal les tambahan anak yang berlebihan. Orang tua lebih memberikan waktu luang bagi anak untuk “bosan”, karena dari rasa bosan itulah kreativitas anak biasanya muncul secara alami.
  • Eksplorasi Alam: Lebih banyak menghabiskan waktu di taman atau hutan kota daripada di mall atau taman bermain indoor.

Social Selectivity (Jejaring Sosial Terbatas)

Dulu orang bangga punya banyak teman, sekarang penganut slow living melakukan:

  • Curated Circles: Secara sadar membatasi lingkaran pertemanan hanya pada orang-orang yang memberikan energi positif.
  • JOMO (Joy of Missing Out): Merasa senang saat tidak diundang atau tidak tahu tren terbaru, karena itu artinya mereka punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri.

Jadi menurut Kamu gimana guys? apakah Anda tertarik untuk mulai slow living?

-TE

Posted in

Leave a comment