• Gila sih, kalau diinget-inget lagi kejadian subuh tadi di Blok M, suasananya bener-bener puncak komedi sekaligus asik banget! Pas acara di pusat kota bubar sekitar jam 1 pagi, semua orang kayak punya satu mindset yang sama: “Blok M, gas!”

    imaga source: beritadaerah

    Nih, kita spill betapa “chaos” tapi serunya momen isi bensin perut subuh tadi:

    1. Gultik Blok M Yang Antrean Udah Kayak Antre Sembako!
    Pas sampe sana, gue kira ada demo, taunya antrean Gultik yang panjangnya nggak ngotak! Tapi anehnya, nggak ada yang bete. Sambil nunggu piring gulai dateng, orang-orang yang nggak kenal malah asik ngobrol. Ada yang pamer video Drone Show dari HP-nya, ada yang curhat kakinya mau copot abis jalan dari Thamrin.Pas kuah gulai hangatnya kena lidah, beuh… semua rasa capek langsung lunas! Makan di pinggir trotoar sambil liatin sisa-sisa kemeriahan Jakarta itu bener-bener healing versi hemat.

    2. Roti Bakar Eddy Spot “Cooling Down” Paling Mantap
    Buat yang udah nggak sanggup makan nasi atau pengen yang manis-manis, Roti Bakar Eddy penuhnya gila-gilaan. Bau roti bakar mentega di mana-mana. Orang-orang duduk selonjoran sambil ngeteh atau ngopi hitam buat ngilangin ngantuk sebelum war naik MRT atau ojek pulang. Roti Cokelat Keju Kornet tetep jadi primadona. Makan ginian jam 3 subuh pas udara Jakarta lagi adem-ademnya itu comfort food nomor satu!

    Gpp deh yang penting kan seru?

    Kemarin kalian ikut war gak guys?

    -TE

  • image source: antaranews

    Kembang api-nya gak jadi ada guys. Kenapa? Pemerintah DKI punya alasan kuat di balik keputusan ini: empati terhadap saudara-saudara kita yang terkena musibah bencana alam. Sebuah move yang patut diapresiasi dari Ibu Kota

    Ratusan Drone “Ngedance” di Langit HI!
    Lupakan asap kembang api yang bikin perih mata. Di Bundaran HI, ada ratusan drone yang terbang barengan membentuk formasi keren dan pola cahaya yang cakep banget. Jujur, ini jauh lebih Instagramable dan TikTok-able daripada kembang api biasa.

    Sentuhan Klasik Modern: Video Mapping di Kota Tua

    Vibes nostalgia tapi tetep fancy di Kota Tua. Gedung-gedung bersejarah di sana disulap jadi “layar raksasa” lewat pertunjukan Video Mapping. Temanya “Penjaga Cahaya Jakarta”—perpaduan antara sejarah kota kita sama teknologi lampu yang canggih banget. Vibes-nya kayak lagi di Eropa, tapi versi lokal yang lebih keren!

    Positifnya, Udara Jakarta jadi nggak penuh asap dan bau belerang. Pulang tahun baruan baju nggak bau sangit, paru-paru juga happy! Nggak perlu parno kena percikan petasan atau denger suara ledakan yang bikin jantung mau copot. Lebih chill dan aman buat jalan bareng temen atau keluarga.

    Gimana menurut kalian?

    -TE

  • image source: antarafoto

    Liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025 di Jakarta kali ini bener-bener meriah dan penuh sama acara seru! Buat kamu yang lagi di Jakarta atau rencana mau tutup tahun di sini, boleh dicatat nih

    Pesta Kembang Api & Malam Muda-Mudi 

    Pemprov DKI Jakarta kembali menggelar perayaan malam tahun baru besar-besaran yang dipusatkan di sepanjang jalan Sudirman-Thamrin hingga Monas pada 31 Desember kemarin!

    Tapi sayangnya, pesta kembang api-nya gak jadi. Tapi ada juga,

    Car Free Night: Jalanan utama bakal ditutup buat kendaraan, jadi warga bisa jalan kaki sepuasnya sambil menikmati panggung hiburan.

    Drone Show: Kabarnya bakal ada pertunjukan ratusan drone yang membentuk formasi cantik di langit Jakarta, selain kembang api ikonik di Bundaran HI.

    Destinasi Wisata Paling Ramai

    Beberapa tempat di Jakarta ramai loh seperti:

    Ancol: Menghadirkan festival musik tepi pantai dan pesta kembang api terbesar di Jakarta Utara.

    TMII (Taman Mini): Jadi pilihan keluarga dengan wajah baru yang lebih hijau dan modern, lengkap dengan air mancur menari (dancing fountain).

    Monas: Tetap jadi primadona buat warga yang mau piknik santai sambil nunggu malam pergantian tahun.

    Info Transportasi & Lalu Lintas

    Operasional MRT & LRT: Biasanya saat malam tahun baru, jam operasional diperpanjang sampai pukul 02.00 pagi untuk memudahkan warga pulang.

    Ganjil-Genap Libur: Kabar baiknya, aturan Ganjil-Genap ditiadakan mulai dari tanggal 25 Desember hingga 1 Januari 2026. Kamu bebas bawa mobil kapan saja!

    Selamat Ulang Tahun semua! Tuhan memberkati!

    -TE

  • Gak cuma kita yang sibuk nyiapin pesta tahun baru, alam pun sepertinya punya cara sendiri buat menutup tahun 2025. Gunung Semeru dan Gunung Ibu, lagi aktif-aktifnya nih di penghujung Desember ini. Yuk, simak update-nya biar liburan tetap aman!

    image source: TribratanewsPolri

    Gunung Semeru (Jawa Timur)
    Atap Pulau Jawa ini lagi nggak bisa diajak bercanda. Sejak akhir November kemarin, statusnya sudah naik jadi AWAS. Tanggal 26 & 27 Desember kemarin, Semeru sempat “batuk” hebat dengan kolom abu setinggi 900 meter. Bahkan, ada bonus lava pijar dan awan panas yang meluncur ke arah tenggara. Lupakan dulu rencana muncak buat tahun baruan ya! Jalur pendakian tutup total sampai Maret 2026.

    Gunung Ibu (Halmahera, Maluku Utara)
    Pindah ke Halmahera, Gunung Ibu menunjukkan aktivitas yang sangat fluktuatif namun intens di akhir tahun. Dari tanggal 26 sampai pagi ini (28 Desember), Gunung Ibu erupsi berkali-kali. Semburan abunya cukup tebal, tingginya sekitar 600 meteran. Masih waspada dan dipantau ketat. Jadi buat kamu yang lagi di Maluku Utara, tetap stay alert ya.

    Tips Santai Biar Tetap Aman:

    • Jangan Nekat: Jangan mendekat ke zona bahaya cuma demi foto estetik atau konten TikTok. Nyawa gak ada gantinya loh!
    • Waspada Hujan: Karena sekarang musim hujan, waspadai juga yang namanya lahar dingin.
    • Memakai Masker: Selain buat gaya, masker berguna banget biar paru-paru nggak kemasukan abu vulkanik.

    Tetap pantau info resmi di MAGMA Indonesia ya. Selamat berlibur dan tetap waspada! 

    TE

  • Tahun 2025 udah mau habis, dan ternyata semesta nggak mau kalah buat kasih “show” penutupan yang keren. Daripada cuma liatin kembang api buatan pas tahun baru, mending kita nengok ke atas. Langit lagi banyak kejutan nih!

    image source: merdeka.com

    Ini dia daftar tontonan wajib buat kamu yang suka stargazing:

    Hujan Meteor Ursid (Pas Banget Malam Ini!)

    image source: space

    Kalau kamu lagi begadang malam ini, Senin, 22 Desember 2025, coba deh sesekali liat ke langit yang agak gelap.

    • Lagi ada puncak hujan meteor Ursid. Ini serpihan debu komet yang kebakar pas masuk atmosfer kita.
    • Tahun ini langitnya lagi kooperatif banget karena bulan lagi “ngumpet” (fase sabit tipis). Jadi, langit bakal gelap total dan meteornya bakal lebih kelihatan jelas. Lumayanlah bisa dapet 10-15 “bintang jatuh” per jam kalau kamu beruntung.

    “Longest Night” alias Solstis Desember

    image: youtube-learnthesky

    Hari ini juga ada fenomena yang namanya Solstis. Kalau di luar negeri, ini tandanya musim dingin resmi dimulai.

    • Buat yang di belahan bumi utara, ini adalah malam terpanjang mereka dalam setahun. Buat kita di Indonesia sih nggak terlalu berasa bedanya, tapi ini pengingat kalau Bumi kita lagi miring maksimal ke arah Matahari. Science is cool, right?

    Parade Planet Raksasa Jupiter & Mars

    image source: metro daily

    Pernah nggak liat bintang yang terang banget tapi cahayanya nggak kedap-kedip? Nah, itu kemungkinan besar planet.

    • Jupiter: Sang raksasa ini lagi terang-terangnya sepanjang Desember 2025. Terbitnya sekitar jam setengah 8 malam. Kalau punya binokular, kamu bahkan bisa liat bulan-bulannya yang kecil di sampingnya.
    • Mars: Si planet merah ini juga lagi mejeng. Warnanya yang agak oranye kemerahan bikin dia gampang banget dikenalin di antara bintang lain.

    Tamu Misterius: Komet 3I/Atlas

    image source: radarmadiun

    Ini yang paling ditunggu-tunggu sama para pemburu foto langit. Ada komet namanya 3I/Atlas yang lagi lewat dekat Bumi. Komet ini bukan dari tata surya kita lho, alias “tamu luar kota”. Kalau langit lagi cerah dan kamu punya akses ke teleskop hobi, wajib banget coba cari si bola salju luar angkasa ini.

    Gimana? Penasaran? Selamat berburu bintang jatuh!

    -TE

  • Hari ini adalah Hari Ibu loh, mari kita bahas Hari Ibu dulu. Senin, 22 Desember 2025, momennya pas banget buat kasih apresiasi ekstra ke Ibu.

    image source: detik.com

    Sejarah Singkat

    Tahu gak sih? Hari Ibu di Indonesia itu aslinya bukan cuma soal kasih bunga atau kado.

    • Awalnya Gerakan Politik: Tanggal 22 Desember dipilih karena dulu di tahun 1928, para perempuan hebat se-Indonesia kumpul bareng di Yogyakarta (Kongres Perempuan I).
    • Bukan Cuma Domestik: Mereka bahas hal-hal “berat” kayak hak pendidikan buat cewek dan keterlibatan perempuan dalam politik. Jadi, Hari Ibu itu sebenarnya adalah perayaan kekuatan perempuan.
    • Baru Resmmi di 1959: Presiden Soekarno yang ketok palu lewat Kepres biar hari bersejarah ini dirayain tiap tahun sampai sekarang di 2025.

    Tokoh-Tokoh Dibalik Layar

    Kalau sekarang kita punya influencer, dulu ada trio hebat yang jadi motor penggerak Kongres Perempuan I, siapa aja sih?

    • Ny. Soekonto: Ketua Kongres yang memimpin jalannya diskusi panas selama 4 hari.
    • Nyi Hajar Dewantara: Istri dari tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara, yang juga aktif memperjuangkan hak belajar perempuan.
    • Nona Soeyatin: Salah satu pelopor yang membawa semangat nasionalisme anak muda ke dalam gerakan perempuan

    Bedanya dengan “Mother’s Day” Internasional

    Ini poin penting: Hari Ibu Indonesia (22 Desember) punya DNA yang beda banget sama Mother’s Day di Amerika atau Eropa.

    Mother’s Day (Internasional): Lebih ke apresiasi domestik, rasa terima kasih anak ke ibu, dan sifatnya lebih sentimental-komersial.

    Hari Ibu (Indonesia): Adalah Hari Kebangkitan Perempuan. Tujuannya untuk mengenang persatuan perempuan dalam politik dan pergerakan nasional. Itulah kenapa secara resmi hari ini disebut “Hari Ibu” (Ibu Bangsa), bukan “Hari Bunda”

    Perubahan Makna Seiring Zaman

    Sayangnya, pada era Orde Baru, makna politis ini sempat digeser menjadi lebih “domestik” fokus ke peran ibu di rumah saja. Tapi di tahun 2025 ini, semangat aslinya mulai balik lagi. Tema tahun ini, “Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045”, ingin ngingetin kita kalau perempuan itu pilar penting kemajuan negara, bukan cuma pendamping di rumah

    Sekali lagi, SELAMAT HARI IBU! Terpujilah semua Ibu-ibu dan calon ibu

    -TE

  • Guys!!! Ternyata IKN nyimpen banyak surprise lho! Selain hutan mangrove dan goa, ada spot lain yang wajib banget lo cek. Dijamin gak nyesel!

     image source: cnbc indonesia

    Plaza Bhinneka Tunggal Ika

    image source: urban+

    Kalau pengen walking tour cantik, mampir ke sini. Tempatnya rapi jali, banyak ruang terbuka hijau. Pas banget buat jalan santai sambil ngebayangin Istana Garuda yang megah dari kejauhan. Clean banget spot-nya!

    Desa Adat Dayak

    image source: detik.com

    Biar liburan lo gak cuma modern doang, cross check juga budaya lokalnya. Ada desa adat Suku Dayak di sekitar sana. Lo bisa liat rumah adat, belajar tarian, atau beli oleh-oleh kerajinan tangan mereka. Keren!

    Tahura Bukit Soeharto

    image source: wikipedia

    Ini hutan gede banget di jalur menuju IKN. Vibe-nya sejuk dan adem, pas buat yang pengen kabur sebentar dari hiruk pikuk kota. Cocok buat hiking tipis-tipis atau sekadar nyari udara segar.

    Pantai Lamaru

    image source: orami

    Kalau nyari pantai yang family friendly dan fasilitasnya lengkap, Lamaru jawabannya. Lokasinya di Balikpapan sih, tapi gampang diakses dari IKN. Bisa main kuda-kudaan atau banana boat di sini. Asyik buat nutup liburan lo.

    Glamping IKN Sepaku

    image source: selasar.co

    Mau ngerasain nginep di tenda mewah yang pernah ditempatin Pak Presiden? Bisa banget! Glamping di IKN ini nawarin sensasi kemping yang nyaman dengan view alam IKN yang juara.

    IKN juga lagi siapin Botanical Garden raksasa sama Taman Safari, jadi stay tuned aja, guys!

    Gimana? Makin banyak kan opsinya? IKN beneran lagi on fire buat jadi destinasi liburan yang lengkap!

    -TE

  • Hayoooo, bentar lagi udah mau libur akhir tahun ni! Tertarik ga untuk pergi berlibur ke tempat yang anti-mainstream contohnya IKN!

    image source: bbc news indonesia

    Siapa bilang ke IKN cuma bisa liat proyek sama gedung-gedung pemerintahan doang? Di akhir tahun 2025 ini, kawasan sekitar Nusantara lagi jadi hotspot baru buat healing lho. Mumpung tol Balikpapan-IKN udah sat-set cuma 30 menit, mending kepoin tempat-tempat ini sebelum makin rame!

    Hutan Mangrove Mentawir

    image source: genpi.co kaltim

    Bosen sama macet? Melipir deh ke Desa Mentawir. Lo bisa naik perahu kayu nyusuri sungai yang airnya tenang banget. Kalau lagi beruntung, lo bisa dadah-dadah sama Bekantan atau Pesut Mahakam yang cute. Cocok banget buat lo yang pengen konten slow living.

    Goa Batu Tapak Raja

    image source: travel kompas

    Cuma 15 menit dari pusat Sepaku, ada goa keren yang formasinya estetik abis. Gak perlu effort gede buat ke sini karena aksesnya udah rapi. Vibe-nya misterius tapi cakep buat masuk feed Instagram lo.

    Canopy Bridge Bukit Bangkira

    image source: wikipedia

    Buat yang gak takut ketinggian, wajib naik ke jembatan gantungnya. Bayangin, lo jalan di atas ketinggian 30 meter sambil liat hutan Kalimantan yang masih ijo banget. Fresh abis, paru-paru langsung berasa bersih!

    Sunset-an di Pantai Tanjung Jumlai

    image source: balikpapantv

    Selesai muter-muter IKN, tutup hari lo di sini. Sekarang udah banyak cafe pinggir pantai yang vibe-nya mirip-mirip Bali tapi versi lebih tenang. Golden hour di sini gak pernah gagal buat bikin galeri HP lo penuh.

    Sumbu Kebangsaan

    image source: wikipedia

    Kalau tetep mau ke area intinya, wajib banget ke Sumbu Kebangsaan. Tapi jangan cuma diem, cobain deh keliling naik Bus Listrik (EV) gratisnya. Serasa lagi di film-film masa depan, vibes-nya clean dan modern banget!

    Gimana? Tertarik ga?


    -TE

  • Lanjut dari artikel artikel slow living diatas, yuk kita bahas beberapa kota yang mungkin bisa dijadikan tujuan kamu!

    Berdasarkan tren di akhir 2025 ini, kota-kota yang paling diminati masyarakat Indonesia untuk menerapkan “slow living” umumnya adalah kota sekunder (bukan kota metropolitan utama) yang menawarkan keseimbangan antara fasilitas modern, biaya hidup terjangkau, dan suasana tenang.

    Berikut adalah beberapa kota yang sering disebut-sebut dan alasannya:

    Salatiga, Jawa Tengah

    Salatiga bisa dibilang jadi juara untuk urusan ini. Udaranya sejuk karena berada di lereng Gunung Merbabu, kotanya tidak terlalu besar, biaya hidup relatif murah, dan fasilitas kesehatan/pendidikan cukup lengkap. Banyak pekerja remote dari Jakarta yang memilih pindah ke sini.

    Yogyakarta (Area pinggiran), DIY

    Meskipun Yogya adalah kota besar, area pinggirannya atau daerah kabupaten di sekitarnya sangat diminati. Atmosfer budaya yang kental bikin hidup terasa lebih santai, banyak komunitas kreatif, dan biaya hidup yang terkenal paling ramah kantong se-Jawa.

    Malang, Jawa Timur

    Kota apel ini menawarkan kesejukan dan pilihan alam yang lengkap (gunung dan pantai). Suasana kota pelajar bikin kota ini hidup tapi nggak se-stress Surabaya. Banyak kafe dan tempat nongkrong estetik yang mendukung gaya hidup santai, dan akses ke alamnya sangat mudah.

    Ubud & Canggu (Area tertentu), Bali

    Bali selalu jadi magnet, tapi bukan di area Kuta yang padat. Ubud menawarkan ketenangan pedesaan khas Bali dengan komunitas ekspat yang kuat. Meskipun Canggu lebih ramai, masih banyak area yang mendukung gaya hidup santai dengan fasilitas mumpuni untuk digital nomad.

    Bandung (Area Lembang/Dago Atas), Jawa Barat

    Area pinggiran Bandung tetap jadi favorit karena udaranya yang dingin dan pemandangan hijau. Cocok buat yang tetap ingin dekat dengan ritme kota besar (Bandung kota) tapi bisa langsung kabur ke alam yang tenang di Lembang atau Dago saat weekend.

    Ini adalah beberapa kriteria umum Kota “Slow Living”:

    • Biaya Hidup Rendah: Gaji kota besar, pengeluaran kota kecil.
    • Akses Alam: Dekat gunung, pantai, atau sawah.
    • Koneksi Internet Stabil: Syarat wajib buat kerja remote.
    • Nggak Macet Parah: Menghemat waktu perjalanan.

    Apakah kamu tertarik pindah ke salah satu kota di atas?

    -TE

  • image source: getty image

    Di article sebelumnya, kita telah membahas mengenai slow living, kali ini ayo kita kulik lebih dalam!

    Untuk lebih spesifik, Slow Living di akhir 2025 bukan lagi sekadar pindah ke desa, tapi sudah masuk ke level mikro dalam keseharian. Berikut adalah aspek-aspek yang lebih mendalam dan spesifik yang sedang banyak dipraktikkan:

    Digital Minimalism & “Layar Hitam Putih”

    Banyak penganut slow living mulai melakukan Digital Detox yang lebih teknis:

    • Mode Grayscale: Mengubah tampilan layar HP menjadi hitam putih. Tujuannya agar otak tidak terstimulasi oleh warna-warna cerah aplikasi (seperti merah atau kuning) yang bikin kecanduan scrolling.
    • Smartphone Dumb-down: Menghapus semua aplikasi hiburan dan hanya menyisakan fungsi alat (peta, catatan, musik). Mereka ingin HP kembali menjadi alat, bukan pusat kehidupan. Cek panduan Digital Minimalism.

    Slow Food & Mindful Eating

    Ini adalah lawan dari budaya fast food dan makan sambil nonton:

    • Farm-to-Table Pribadi: Mulai menanam sendiri bumbu dapur (seperti cabai, mint, atau rosemary) di balkon atau teras. Ada kepuasan tersendiri saat memanen dan memasak apa yang ditanam.
    • Tanpa Gadget Saat Makan: Praktik spesifik di mana waktu makan benar-benar digunakan untuk merasakan tekstur dan rasa makanan tanpa gangguan layar. Ini dipercaya bisa menurunkan level stres dan memperbaiki pencernaan.

    Slow Fashion & “Wardrobe Capsule”

    Bukan cuma soal nggak belanja, tapi soal hubungan dengan pakaian:

    • Mending (Memperbaiki): Tren menjahit kembali baju yang sobek atau memberi bordir pada noda pakaian (sering disebut Visible Mending). Ini adalah bentuk kasih sayang pada barang yang sudah dimiliki.
    • Capsule Wardrobe: Membatasi jumlah pakaian hanya sekitar 30-40 potong yang semuanya saling cocok. Ini spesifik untuk menghilangkan “decision fatigue” atau rasa pusing memilih baju setiap pagi.

    Monotasking di Tengah Dunia yang Multitasking

    Spesifik dalam cara bekerja atau beraktivitas:

    • Deep Work: Mengalokasikan 2-3 jam sehari tanpa gangguan apapun (HP dimatikan) hanya untuk satu tugas penting.
    • Jalan Kaki Tanpa Podcast: Biasanya orang jalan kaki sambil dengerin musik atau podcast. Slow living mengajak orang jalan kaki 15-20 menit sambil benar-benar mendengarkan suara sekitar (angin, burung, langkah kaki) sebagai bentuk meditasi bergerak.

    Slow Parenting (Bagi yang Sudah Berkeluarga)

    Pola asuh yang mulai hits di 2025:

    • No Extra Courses: Mengurangi jadwal les tambahan anak yang berlebihan. Orang tua lebih memberikan waktu luang bagi anak untuk “bosan”, karena dari rasa bosan itulah kreativitas anak biasanya muncul secara alami.
    • Eksplorasi Alam: Lebih banyak menghabiskan waktu di taman atau hutan kota daripada di mall atau taman bermain indoor.

    Social Selectivity (Jejaring Sosial Terbatas)

    Dulu orang bangga punya banyak teman, sekarang penganut slow living melakukan:

    • Curated Circles: Secara sadar membatasi lingkaran pertemanan hanya pada orang-orang yang memberikan energi positif.
    • JOMO (Joy of Missing Out): Merasa senang saat tidak diundang atau tidak tahu tren terbaru, karena itu artinya mereka punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri.

    Jadi menurut Kamu gimana guys? apakah Anda tertarik untuk mulai slow living?

    -TE